Foto untuk : P2TP2A Kampar Beri Bantuan Anak Korban KDRT yang Tewas Dibacok

Pengurus P2TP2A Kampar Datangi Keluarga Korban Pembacokan Suami Sendiri


Tambang (JarNas) – Pengurus Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Kampar mendatangi kediaman keluarga korban Kekerasa Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang menyebabkan Sm (44) warga Kecamatan Tambang meninggal dunia akibat bacokan suaminya sendiri, AA (48), Sabtu (16/9).

Sebelum menemui keluarga korban pengurus P2TP2A, Wakil Ketua, Misrahayati Ali, S.Ag, Erniwati dan Netty Mindrayani menemui Kapolsek Tambang, AKP Jambi Lumban Toruan, SH dan Kanit Reskrim, Charles Nainggolan di kantornya. Setelah mendapatkan informasi tentang kejadian itu, kemudian bersama anggota Polsek mendatangi keluarga korban dan menyerahkan bantuan.

“Sebagai bentuk kepedulian dan bagian tugas P2TP2A yang memberikan pelayanan kepada perempuan dan anak, kami datang menyampaikan salam duka sekaligus memberikan bantuan uang kepada anak-anak korban yang masih mengenyam pendidikan dan ingin mengetahui kondisi anak-anak korban yang masih kecil, jika memang diperlukan akan diberikan bantuan phsycologis kepada anak-anak korban,” kata Misrhayati mewakili Ketua P2TP2A, Hafis Tohar.

Di rumah keluarga korban ditemui ibunda korban serta abang dan adik-adiknya, “Kami sangat berterimakasih atas perhatian dan bantuan P2TP2A yang peduli atas musibah yang menimpa kami,” kata Zul abang tertua korban yang harus pulang mendengar musibah itu meninggalkan kerjanya di Batam bersama istri dan kedua orang anaknya.

Dia menyebutkan bahwa kejadian ini sangat menyayat perasaan mereka, namun apa hendak dikata takdir hidup adik saya harus mengalami seperti ini.

“Anak bungsu adik saya ini akan kami asuh dan bawa ke Batam, dua anaknya lagi yang masih sekolah, SD dan SMA tinggal bersama ibu saya disini,” ujarnya.

Zul didampingi ibu kandungnya Syam bersama anak-anak korban serta keluarganya yang lain menyampaikan, “Selama ini korban, suami dan anak-anaknya itu tinggal bersama ibu saya, kami mengirim sum-suman dari adik-adiknya yang lain untuk biaya hidup atau kebutuhan sehari-hari ibu kami, dengan demikian juga membantu korban bersama suami dan anak-anaknya,” jelasnya.

Belum berapa lama korban memiliki rumah bata yang letaknya tidak jauh disamping rumah ibunya, “Ini rumah adik saya itu, belum lama mereka bangun rumah ini, disnilah peristiwa naas itu terjadi,” kata dia.

Korban meninggalkan enam orang anaknya, lima orang perempuan dan satu orang laki-laki, dua orang sudah menikah, dua orang masih sekolah (kelas 4 SD dan kelas 2 SMA), anak kelima laki-lakinya baru berumur 5 tahun, sedangkan anak bungsu berumur 9 bulan.

Menurut cerita mereka, sebelum kejadian pelaku, AA pergi dari rumah beberapa hari, kebetulan ada orang yang mengenali pelaku dan melihatnya di dekat jembatan di Tambang disampaikan kepada tetangga korban, “Kalau bertemu dengan Sm tolong disampaikan kepadanya bahwa suaminya ada di dekat jembatan, jemputlah,” kata warga itu.

Tidak lama berselang, adik pelaku Bd bersama korban menjemput abangnya ke lokasi yang dimaksudkan itu sambil membawa orang pintar untuk mengobati pelaku, namun niat baik ditolak dengan alasan malu dilihat orang, lalu mereka berhasil membujuk pulang ke rumah.

Masih dalam upaya pengobatan, pelaku menolak diobati di rumah mertuanya, dia minta dipasangkan obat untuknya itu di rumahnya saja. Naas bagi korban saat berada di rumahnya, hari itu itu juga peristiwa itu terjadi, saat akan dipasangkan obat untuknya, pelaku tiba-tiba ke dapur mengambil sebilah parang.

“Sebenarnya yang hendak dibunuh itu adalah anak bungsunya itu, namun niat pelaku terhalang oleh istrinya, korban segera meraih dan memeluk erat anaknya itu untuk menghindari amukan dan bacokan suaminya, hingga parang itu mengenai sekujur tubuhnya, di kepala, bahu kiri dan kanan, perut, jari kelingking tangan kanan putus dan jari kelingking kiri nyaris putus,” cerita adik-adik korban.

Ketika itu anak laki-laki menyaksikan peristiwa itu, dia hendak menyelamatkan diri keluar dari rumahnya, namun semua pintu terkunci, setelah mendengar suara gaduh, adik pelaku mencoba mendobrak pintu belakang yang pada akhirnya korban bisa melarikan dan  ke rumah tetangganya, untuk meminta tolong dibawa ke rumah sakit. Sudah pasti, tetangga korban bertanya kepadanya, namun dia menjawab bahwa dirinya habis terjatuh hingga luka-luka.

Sedangkan ibunda korban yang dekat dengan rumahnya sendiri tidak mengetahui kejadian itu, baru kemudian setelah akan dibawa ke rumah sakit baru mengetahui bahwa anaknya mengalami luka-luka. Warga sekitarpun berkerumun untuk memberikan pertolongan, Polisipun tiba dilokasi setelah mendapat laporan masyarakat lalu korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Arifin Ahmad Pekanbaru.

Menurut cerita mereka, bahwa pelaku sudah sejak tiga tahunan berperilaku aneh dan kadang berbicara ngelantur, bahkan berdasarkan pengakuan anak-anak korban, AA pernah menyampaikan jauh sebelum kejadian itu kepada anak-anaknya, “Kita semua akan mati, apakah kalian sudah siap mati, pulanglah kalian semua, untuk apa kerja, untuk apa sekolah, kita semua akan mati,” cerita anak-anaknya.

Syam, ibunda korban terlihat begitu sedih kehilangan anak keempatnya itu dengan cara yang sangat tragis, “Akan saya itu tidak banyak cerita, dia tidak pernah menceritkan perangai suaminya kepada siapapun termasuk saya, bahkan tetangga disini sering memujinya, karena kesabarannya menjalani hidup, saya sebagai ibu kandungnya tidak pernah mendengar keduanya bertengkar, maka saya tidak  pernah menduga akan mengalami nasib seperti itu,” ucapnya.

Bukti memang sabar kata Syam, “Walau tubuhnya sudah berlumuran darah karena dibacok, dia tetap melindungi perilaku suaminya itu, dia katakan kepada tetangga bahwa dia terluka karena habis terjatuh,” ucapnya berlinang air mata.

Jangan Salahkan Ayah

Pesan terakhir korban kepada anaknya yang masih SMA, “Jangan salahkan ayah, ayah kalian tu tidak salah, dia begitu karena sakit, itulah pesan ibu sebelum meninggal,” kata anak korban, Fr dengan mata berkaca-kaca.

“Ayah pernah melarang saya sekolah, bahkan pernah ditahan kunci sepeda motor saya, agar tidak ke sekolah, tidak usah sekolah, semua akan mati, namun setelah saya carikan rokok, barulah kontak kendaraan saya diberikan dan pergi ke sekolah,” ujarnya.

Senada dengan itu menurut pengakuan anak kedua korban, “Ayah sering mengaji ke mesjid dekat rumah, namun sering bicara ngelantur, dia pernah bilang kami akan mati semua,” kata kedua korban yang sudah bekerja di Batam.

Robohkan Rumah

Pelaku saat ini sudah ditahan di Mapolres Kampar untuk proses hukum selanjutnya, “Tahanan kami pindahkan ke Mapolres Kampar untuk dimintai keterangan dan pertanggunjawaban atas perbuatan kejinya itu,  AA dikenakan peraturan khusus, UU KDRT pasal 44 jo pasal 351 ayat 3 KUHPidana dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara,” kata Kapolsek.

Peristiwa ini terjadi pada Selasa (12/9) pukul 14.30 WIB di rumah korban Kecamatan Tambang, diduga pelaku mengalami defresi berat yang mengakibatkan terjadi tindak kekerasan dalam rumah tangga kepada istrinya sendiri. Ibu korban yang memberikan laporan kepada pihak kepolisian untuk tindakan hukum selanjutnya terhadap pelaku.

Pelaku sebelumnya bekerja sebagai supir truck miliknya sendiri, namun setelah beberapa tahun terakhir tidak bekerja, untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka, istrinya bekerja jualan di kantin sekolah.

“Atas permintaan anak-anak dan keluarga korban, rumah Tempat Kejadian Perkara (TKP) akan dirobohkan, karena anak-anaknya tidak tahan melihat rumah itu, namun karena masih dalam proses hukum, sampai saat ini belum dirobohkan,” ujar Lumban. (*)