Foto untuk : Ketua P2TP2A Di Rumah Korban Bullying

P2TP2A Kampar Datangi Rumah Korban Bullying


KAMPAR (JarNas) - Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Kampar, Hafis Tohar, SH bersama pengurus mendatangi rumah keluarga korban penindasan, (bullying) teman sekolahnya, EL (15) yang nekat mengakhiri hidupnya terjun ke sungai Kampar pada Minggu (30/7/2017).

Ketua dan pengurus P2TP2A ini bertemu orang tua atau keluarga korban di Desa Kumantan Bangkinang Kota dan menyampaikan rasa turut berduka atas meninggalnya EL sekaligus mempertanyakan soal kebenaran kabar yang beredar bahwa penyebab korban mengakhiri hidupnya itu.

Berdasarkan keterangan pihak keluarga, kata Hafis bahwa almarhumah menjadi korban olok-olokan, sering diejek-ejek temannya di sekolah SMA Bangkinang Kota bukan karena sakit atau persoalan asmara

"Dalam hal ini, P2TP2A akan memberikan konseling terhadap anak-anak yang berada dalam lingkungan perbuatan bully ini agar kejadian serupa tidak terulang lagi," kata Hafis didampingi sejumlah pengurus, Fitri, Nova Lestari, Netty Mindrayani, Lutfi dan Acin.

Hafis sangat menyayangkan kejadian ini, "Ini pelajaran buat kita semua terutama di dunia pendidikan, sebab berdasarkan keterangan dari pihak keluarga peristiwa itu terjadi pada saat jam belajar, apa mungkin perbuatan yang dilakukan secara beramai-ramai itu tidak ada guru tahu, bahkan itu terjadi berulang," ujarnya.

Dia menilai, dengan kejadian ini ada yang salah terhadap menejemen pendidikan, perlakuan dan fungsi-fungsi bagian yang ada di dalam sekolah ini, dan akan menjadi perhatian serius pihak P2TP2A Kampar.

Sementara itu, Fitri pengurus P2TP2A Kampar yang juga Kanit PPA Polres Kampar menyampaikan bahwa kasus ini akan dipelajari lebih mendalam dan menjadi perhatian serius terutama lembaga ini dalam melakukan pencegahan kejadian berulang untuk menyelamatkan anak-anak Kampar dari korban dan tindakan kekerasan fisik maupun mental.

"Bully jangan dianggap enteng dampaknya sangat berbahaya, apalagi sampai membuat korbannya melakukan tindakan bunuh diri," ujarnya.

Fitri mengajak semua pihak melakukan pengawasan dan mendukung untuk menolak bully ini demi kebaikan dan kepentingan terbaik buat anak-anak kita semua.

"Dengan kejadian ini, jika mendengarkan penuturan keluarga korban bahwa tidak ada kepedulian dari teman-temannya dan pihak sekolah," kata dia. 

Dalam keterangan paman korban, Alung didampingi ibunya serta keluarganya yang lain mereka membenarkan bahwa anaknya memang sering menjadi korban bully.

"Dia memang sering jadi korban olok-olokan teman-temannya, dari SMP sampai masuk ke SMA itu orang yang melakukan bullyng adalah orangnya sama," kata Alung.

Awalnya, lanjut Alung korban senang sekolah disana, namun tiga minggu belakangan ini dia mendapatkan perlakuan berulang, teman-temannya sekelas mengejek dan melontarkan kata-kata yang kurang pantas terhadapnya.

Menurut cerita keluarga bahwa kejadian ini sudah dilaporkan ke gurunya, namun tidak ada tanggapan sama sekali, "Kami hanya butuh keadilan dan kebijakan pihak sekolah terhadap kejadian ini, bahkan ada guru yang melontarkan kata-kata kurang pantas saat mau mendaftar pertama kali ke sekolah itu, beginikah perlakuan terhadap kami orang miskin," ujarnya.

Sementara ini, pihak keluarga masih menunggu hasil rapat intern pihak sekolah atas laporan dan keberatan mereka terhadap kejadian ini. (ty/jnn)